Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my life. Tampilkan semua postingan

update report

Date : 06 September 2011
Time : 21.38 WIB
Location : Human Resources Department - PT Siemens Indonesia
Address : Jl. TB Simatupang Kav.88 Jakarta Selatan
Activities : assisting the execution of employees' off-cycle payment
Health Condition : below 40%

FACING THE DREAM!!

Artikel berikut adalah tulisan yang menginspirasi dan memotivasi saya untuk mengejar salah satu mimpi saya. Berangkat ke luar negeri dalam satu tahun ke depan, sebelum tiba ramadhan. Saya beri Anda gambaran ringkas, saya adalah pria yang kini berusia 21 tahun 3 bulan. Mahasiswa semester 7 di salah satu universitas di Ibukota. Namun faktanya, seumur hidup saya belum sedetik pun naik pesawat (sungguhan) yang terbang melintasi berbagai kota. Ke bandara pun belum pernah. Sebenarnya sering sih, tapi hanya lewat di depan bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Tapi dengan tulisan berikut ini, saya terlecut untuk mengubah keadaan dan mengakhiri rekor payah tersebut!



PASSPORT




Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.



Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global."



Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.


"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, Pak?"



Saya katakan saya tidak tahu.



*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.


*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.


Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.


Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.


Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.


Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.




The Next Convergence


Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.


Sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.


Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.


Mahasiswa tipe ini, jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan.


Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan.


Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.


Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif?


Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.


Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.


Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka
anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket?
Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.


Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.


Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.




*Ditulis oleh Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia

Jawa Post, 8 Agustus 2011




Anak Magang yang Dibukakan Pintu oleh CEO

Senin, 25 Juli 2011


Hari yang cukup menguras semangat. Setelah libur weekend 2 hari, kini saya harus kembali menjalani rutinitas dunia kerja sebagai salah satu karyawan magang di sebuah perusahaan multinasional di Ibukota.


Pukul tujuh kurang saya masih santai dengan minuman hangat di depan televisi. Saya harus masuk jam 8, sementara dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke kantor. Aaah...aku berjalan agak cepat, namun tidak secepat biasanya. Pukul 7.12 akhirnya bisa masuk ke dalam busway.


Perjalanan berlalu seperti biasanya. Tak ada yang istimewa kecuali rombongan anak-anak yang pagi-pagi sudah berangkat menuju Ragunan dan satu tempat duduk kosong buatku. Angkotnya pun sama. M17 Ragunan – Pasar Minggu yang melalui kolong tol. Aku turun di jembatan, naik lalu ke seberang dan akhirnya sampai di kantor.


Pukul 7.50 aku sampai di lobby depan. Beberapa menit kemudian sampai di penthouse (lantai teratas di gedung ini). Sampai di depan ruangan ada rekan magangku bersama karyawan senior yang terkunci di depan pintu. Ah, pintunya masih dikunci ternyata. Mas-mas OB yang membawa kunci pun membukakan pintu untuk kami.


Yak! Ruangan masih sepi, hanya kami bertiga dan cleaning service yang sedang membersihkan meja. Saat dia akan membuka pintu Sang Manager, Ibu Nina –pegawai senior yang tadi- berkata, “ Ga usah dibuka, Mas. Ibu ga ada seminggu ini. Dibuka lagi hari Jumat aja...”


Si “Bos” sedang ke Beijing. Kami bertiga, plus mas Agung –karyawan baru, yang baru datang juga- pun keluar untuk sarapan. Saya sendiri tidak tahu apakah sarapan ini hanya disediakan hari senin saja atau setiap hari. Ini baru hari Senin keduaku.


Dan baru sekitar jam 9 kurang, para karyawan datang. Padahal biasanya jam 8 mereka sudah ada disini. Supervisorku tak kunjung datang, dia berkata dia cuti hari kamis dan jumat. Lalu dia berkata lagi, mungkin senin masih cuti.


Dan mbak Shinta, yang biasa memberikanku “kerjaan” kalo mas Tommy –supervisorku- sedang tidak di tempat, juga tidak tidak masuk. Dia ikut ke Beijing menemani Bu Lola.


Ah aku benar-benar tidak punya hal yang harus dikerjakan. Aku buka saja laptopku, lalu sedikit membenahinya dengan TuneUp Utilities. Selesai. Aku tidak tahu lagi mau mengerjakan apa. Iseng saja aku buka Ms.Word, Excel, serta Foxit PDF Reader. Berpura-pura mengerjakan sesuatu.


Pukul 10.00 rasanya aku ingin sekali ke toilet. Aku pinjam saja ID teman magangku. Dia sudah memperingatkanku, “Itu nanti ga bisa buat masuk loh...” Aku tetap ngeyel. Ah biasanya tinggal mengetuk pintu, orang yang di dalam pasti berbaik hati membukakan pintu.


*setelah beberapa saat*


Selesai. Saatnya kembali ke kantor. Aku melihat melalui sela-sela pintu kaca sambil mengetuk pintu. Tiba tiba dari arah kananku muncul sosok tinggi berpakaian rapi dengan muka putih kemerahan khas orang luar. Dia sudah hampir masuk lift. Sampai akhirnya dia menegurku ramah.


“Can I help you? What are you looking for”


Okay. Aku mulai terkaget-kaget melihat wajahnya. Dialah orang yang fotonya ada di halaman utama intranet perusahaanku. Tidak main-main, dia muncul di kolom CEO Message.


Dengan terbata-bata aku menjawab, “No, Sir. I am a new trainee. I want to get in, but I don’t have ID Card yet.”


Bapak yang ramah tadi langsung menyambung pertanyaannya, di bagian apa kamu? Sudah berapa lama disini? Aku jawab sekenanya, refelks, “I’m in HR Dept. It’s about a week I am here.”


Tanpa banyak basa-basi, Mr. CEO menggunakan IDnya untuk membuka pintu. Aku belum sempat berterima kasih, dia terus saja berjalan ke ruanganku, menyapa beberapa wanita di depan pintu ruang HRD, “Morning ladies...” mereka menjawab spontan, “morning...” mungkin mereka kaget setelah melihat siapa yang menyapa mereka.


Aku tetap diam mengikuti beliau di belakangku. Aku pikir dia memang ada keperluan di ruang HRD. Dia memasukkan password dan menggunakan Idnya untuk membuka pintu. Dan begitu pintu terbuka, dia berjalan pasti ke tengah ruangan. Semua karyawan langsung kaget dan bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba Big Boss masuk ke HRD??


Mr.CEO lantas berseru kencang, “Is this your man?” sambil menunjuk ke arahku. Semua diam dan tetap melongo.


Ibu Nina menjawab “Yes, Sir”


Bapak tadi tersenyum dan tertawa kecil, lantas meninggalkan ruangan dan membiarkanku terdiam berdiri di tengah-tengah semua karyawan HRD.


Semuanya terdiam, masih kaget, dan bertanya “Lu minta dianterin dia tadi??”


Astagaaa... aku yang masih terkaget-kaget dan tidak percaya CEO membukakan pintu untukku hanya bisa bercerita terbata-bata sambil tetap berdiri seperti tersangka di tengah ruang sidang.


“Engga kok Bu... Jadi tadi (begini begini begitu dan seterusnya...)” Mereka pun tertawa ringan karena ulahku..


Sampai istirahat pun, teman magangku masih bertanya kepadaku tentang kejadian tadi. Aku pun menceritaknnya sambil tertawa. Saat istirahat aku juga menghibur teman-temanku yang sama-sama magang di tempat ini dengan cerita ini. Bahkan setelah selesai istirahat, Ibu Nina masih penasaran dan menanyakan hal yang sama. Dan pada akhirnya dia tertawa sambil nyeletuk “Lagian ngapain CEO masuk HRD??” Ah aku jawab dalam hati saja “Buat membukakan pintu anak magang, Bu...” hehehe :p


Moral of the story:

"Jadilah CEO yang baik, pemimpin yang sopan dan ramah, tetap rendah hati, tidak malu untuk membantu yang dibawah, meskipun telah sampai di posisi tertinggi"


Your excellency, Mr. Hans-Peter Haesslein

Tragedi Hari Ini

Malam itu saya lapar sekali. Makan nasi hanya di waktu pagi sewaktu masih berada di rumah kakak sepupu di Bogor. Siang tidak sempat makan, hanya meneguk minuman coffee botolan. Sore makan satu bungku sroti..


Setelah maghrib saya bergegas ke belakang kampus utk membeli nasi goreng.. Sayang beribu sayang, warungnya sudah gelap. Ibu penjual nasi goreng dan sate ituu sedang beres-beres membersihkan warungnya.


"Sudah tutup, Bu?" tanyaku.


"Sudah, Mas" katanya, "besok lagi aja..."


Aku pun pergi ke ***, tempat yang agak jauh dari kampus. Aku pergi seorang diri, mengelilingi tempat makan itu. Di bagian atas, tempat nasgor favoritku tidak buka. Di bagian bawah, tidak ada yang menjualnya. Sial sekali! Aku sudah berkeliling jauh-jauh tak bertemu seorang penjual nasi goreng pun. Aku pun kembali ke atas. Ternyata ada satu warung yang terlewatkan. Ah..Legaa... Segera aku pesan di situ.


Aku duduk sambil menunggu. Aku punya perasaan tak enak tentang uang yang aku bawa. Segera Aku mengecek isi kantong. Cuma ada 2 lembar uang seribuan dan beberapa recehan 500an. Dompet kosong! Hanya ada kertas dan surat-surat. Ah, Aku baru ingat uangnya ada di tas.


Uang di kantong tentu tidak cukup. untung tadi aku berkeliling tempat ini. Aku melihat ada temanku disebelah sana.. Aku menghampirinya. Dengan jujur aku berkata uangku tidak cukup..


"Hahaha... Ati-ati lho kak. Ntar disuruh nyuci, Lo" begitu candanya


Aku meminjam uangnya hanya Rp 5000.. Perkiraanku harganya paling cuma Rp 8.000, seperti biasa. Dengan PD gw melangkah pasti ke mbak2nya dan bertanya harganya..


"Sepuluh ribu, Mas..."


Jleb!! Sepuluh ribu?? How Come?? Gelisah aku dalam hati. biasanya juga 10rb masih ada kembalian. Apa karena aku sekarang memakai pakaian kerja dan rapi? Jadi dikira karyawan??


Maklum...ditempat ini kadang harga bervariasi. Mahasiswa vs Karyawan. Rapi vs apa adanya. terkadang meski makanan yang dibeli sama, harganya bisa berbeda..


Aku hitung2 dalam hati, uangku msh tetep kurang.. Jumlahnya hanya Rp 9500. Kurang gopek lagi! Aku beranikan diri. Aku sodorin saja semuanya.. "Maaf, mbak receh.." mbaknya hanya melihat sekilas. "Iya, Mas. Gapapa..." lalu memasukkan uangnya. Aku pun segera bergegas meninggalkan tempat itu, takut disuruh mencuci piring.. hehe


Aku berjalan agak cepat, sesekali menoleh ke belakang. Siapa tahu mbak tadi memanggil-manggil dan berteriak, "Woi, Mas!! Duitnya kurang gopek nih!!" Alangkah malunya aku kalo sampai hal itu terjadi..


Sudah agak jauh. Aku menghela nafas panjang. Untunglah..


Aku masuk ke dalam kampus untuk mengambil tas. Lalu naik ke foodcourt dg membawa makanan dari tempat tadi.. Agak aneh dan lucu memang.. Tak apa lah.. Aku membuka bungkusan plastik hitam, lalu kotak strereofoam nasi gorengnya. Dan waow. . .


TIDAK ADA SENDOKNYA!!


okay... Inilah akibat dari kurang membayar nasi gorengnya.. Tak ada sendok. dan aku yang sudah lapar bingung mau makan pake apa....

-.-a

Tulisan tahun lalu. . .

Jika Anda mengetikkan nama "Rahadhian Faris Muttaqin" di google, mungkin yang akan muncul adalah website Bapak Anindya Bakrie.

Anda tahu kenapa??

Berawal dari April tahun lalu, saat Beliau menyelenggarakan Kontes Update Status dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei. Saya berfikir sejenak, mencari inspirasi, kemudian menuangkan pikiran saya dalam bentuk status yang panjang karakternya tidak boleh melebihi 420 karakter. Kelihatannya memang mudah. Apa susahnya sih update status?? Susah-susah gampang sebenarnya. Letak kesulitannya ada di bagaimana Anda menyampaikan ide/pendapat Ana yang mungkin kompleks dan perlu dijelaskan secara detail kedalam suatu paragraf singkat yang disebut status facebook.

Dan kurang lebih inilah hasil pemikiran saya saat itu:

“Taukah Anda pendidikan yg ideal?

Bukan pendidikan “KUTU BUKU” yang mengharuskan mahasiswa menjawab persis sperti yg trtulis di buku. . .

Bukan pendidikan “OTORITER” dimana setiap titah dan tindakan dosen selalu benar. . .

Bukan pendidikan “ROBOT” dimana siswa diharuskan mengikuti dan menaati setiap titah ’sang dewa’. . .

Pendidikan yg ideal haruslah didasarkan pada kebebasan, minat dan kesukaan siswa sehingga daya imajinasi dan kreatifitas akan terbuka lebar hingga akhirnya akan memunculkan ide-ide briliant nantinya, dibatasi nilai-nilai moral dan agama tentunya…”


Dan syukur alhamdulillah, tulisan tersebut menjadi satu dari 3 yang beruntung diantara 400 status lain yang mengikuti kontes ini. Awalnya saya tidak menyangka karena status saya tersebut "sepi". Tidak ada komen, dan hanya satu orang yang memberikan "like".


Namun saat saya dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, saya dikejutkan oleh sms dari kakak tingkat saya. "Selamat ya Ris...-dan seterusnya-" Dan saya pun langsung ke warnet untuk mengeceknya. Alhamdulillah, saya bisa membuat ayah dan ibu saya sedikit bangga. Saya sangat terharu saat itu...


Ini bukan masalah hadiah. Ini adalah tentang sebuah ide, pemikiran, kontribusi kecil dan bagaimana seorang anak mencoba membuat orang tuanya bangga...


Aaaah. . .Kenangan yang manis...

(kiri-kanan) Rahadhian Faris Muttaqin, Rini Susilowati dan Muhammad Fairuz pemenang Kontes status update di fan-page Facebook http://www.facebook.com/pages/Anindya-Bakrie/ tentang Hardiknas di Jakarta, Jumat (7/5/10).

Seperti yang termuat di situs Bapak Anindya Bakrie http://aninbakrie.com/?p=855

Senang bisa membuat ayah dan ibu bangga...
:))

Persiapan UAS Advanced Accounting I

Sabtu siang yang panas. . .


Untuk memenuhi kehausan ilmu akan sebuah pembelajaran dan ujian, akhirnya aku membelah panas. Tanpa pisau, tanpa topi, tanpa payung warna warni...


11.30 sampai di kampus. Deretan ruangan sejuk dan terang. Tidak terlihat orang yang ku tuju. Master dalam segala ilmu. Aaaahhh. . . dan akhirnya aku naik ke atas. Berharap dia ada di foodcourt. Aku ke sebelah kanan panggung. Hampir saja duduk. Andai aku tidak melihatnya di seberang, aku pasti menunggunya disitu.


Santai aku berjalan ke sebelah dengan tangan kanan menenteng buku merah Advance Accounting. Berat memang. Tapi ku harap hasilnya akan seimbang.


Oke. Sesi belajar pun di mulai. Bermula dengan mengerjakan chapter 5 Problem 5-5. Ya, sesuai dengan kisi-kisi yang ada. Sementara dia masih pusing dengan chapter 6 dan selanjutnya...


Ups... aku belum sholat!! Aku lalu turun, dan beribadah sejenak.. Di bawah aku bertemu dengan teman sekelas AIS. Dan niat belajar advance pun melenceng karena aku diculik untuk menjelaskan Aturan Pengintegrasian REA. (Anda tidak paham?? Yaah... masih terlalu muda memang.. #plaaak!!)


Kembali ke persoalan Advance. Bersamaan dengan selesainya belajar AIS, kelas Ibu Monica Weni keluar dengan kumpulan kertas berisi berita gembira... Kisi-kisi dan pembahasan soal! Segera aku fotocopy dan membawanya ke atas...


Dan mulailah persiapan Advance yang sangat serius!! Berjam-jam kami duduk disana.. Berdebat mengenai ini itu, kisi-kisi, jawaban, cara dan lain-lain...


Sampai pada akhirnya semuanya selesai. . .


Kami puas sekali dengan persiapan Advance kali ini... Sejenak semua terasa ringan.. Tidak sepanas dan seberat tadi...


Dan inilah hasil kerja keras kami disana... Sebuah dedikasi untuk Ujian Advance Accounting..


Semoga berguna, Semoga bermanfaat. . .


Please Enjoy guys...


#1 Hasil perdebatan dan kemampuan Marvelia Vatarsony Munthe

anak TK belajar menggambar :p

#2 Persaingan dan perdebatan kami tentang siapa yang paling hebat

persaingan pun memanas

Spongebob (faris) Squarepants (marvel)


HAHAHAHAHA. . . .!!


KENNAAAA DEEEHHHH!!!!


Wkwkwkwk


“UAS hanyalah bagian kecil dari siklus kehidupan mahasiswa yang tak perlu dipusingkan... Tubuh dan jiwa Anda juga berhak untuk merasakan relaksasi dan penggendoran syaraf, teman... Ketika temperatur sudah mulai memanas, perlahan turunkan... karena mesin yg terlalu panas pun tak bisa optimal bekerja... Tertawalah sejenak bersama kami... Tersenyumlah karena hari-hari depan menunggu senyuman Anda yang lebih besar lagi...”


SUUUPPPEEERRRRRR. . . .!!


Selamat UAS, teman2.. :p


view original post

Oleh - Oleh Hari Ini

Jika Anda berniat membaca ini, berjanjilah bahwa Anda akan membacanya sampai selesai. Karena pada akhirnya Anda akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari sini. Mungkin anda sudah sering membaca atau mendapatkannya, tapi. . .aaah... sudahlah... tidak ada gunanya saya memaksa Anda.. Please Enjoy.. Semoga bermanfaat :)


¤ ¤ ¤


Berawal dari pagi yang sungguh membunuh semangat...


Aaahhh... Sepertinya mata saya masih enggan terbuka, tertutup seperti kuncup bunga yang belum berkembang. Sepertinya kasur menjadi lebih indah dan bantal menjadi lebih cantik dari biasanya. Kalau bukan karena sebuah undangan, mungkin sekarang ini saya baru mandi dan keluar rumah untuk makan.


Pukul 08.51 WIB. Saya baru keluar rumah. Sebenarnya pada undangan tertera acara dimulai pukul 09.00 –meskipun saya sendiri belum melihat undangan itu-. Tapi menurut pengalaman dan perkiraan saya, jam sembilan pasti acaranya belum dimulai. Bakal ada waktu yang ngaret, molor, atau hal-hal lain yang membuat acara tidak berjalan tepat waktu.


Tapi ternyata saya salah, pukul 09.00 acara sudah dimulai. Meskipun hanya registrasi peserta, toh itu bagian dari acara. Dan dimulai tepat waktu! Saya dan kawan-kawan mendapat seminar kit, -seperti biasa-. Pukul 08.45 acara benar-benar dimulai. Pembukaan, sambutan dan doa. Hingga akhirnya menginjak materi pertama.


Beliau sudah sangat senior. Lulusan UGM tahun 1955 –if i’m not mistaken-. Kelima cucunya sudah selesai S1. Bahkan ada yang S2. Pelaku sejarah. Seorang yang senior, pernah ke Amerika, bahkan saat Indonesia masih berusia sangat muda.


Judul Seminar yang dibawakan beliau adalah “Kesadaran Bela Negara bagi Generasi Penerus Bangsa”.

Saya sungguh berharap sebagian dari anda yang membaca tulisan ini tidak akan langsung menutup tab dan berpindah ke laman lain begitu membaca judul seminar tersebut. Just stay, for a while.

Pada saat penyampaian materi, beliau lebih menekankan aspek lain ketimbang bela negara itu sendiri. Bangsa, sejarah, Pancasila, dan globalisasi. Cukup singkat. Hanya sekitar 40 menit beliau memaparkan materinya. Namun di saat sesi tanya jawab . . .


Banyak pertanyaan yang diajukan. Wajar saja. Dengan penjelasan sesingkat itu tentu tidak bisa mengcover semua pembahasan. Ada sekitar 7 atau 8 penanya –sebenarnya saya juga ingin bertanya-. Semuanya bagus, semuanya kritis. Dan inilah rangkuman jawaban dari sang pembicara yang saya kaitkan dengan pertanyaan mendasar dari dalam diri saya. . .


“Saya sepakat bahwa bela negara itu terus berkembang. Dulu, para pendahulu kita membela negaranya dengan berjuang secara fisik untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Seiring berjalannya waktu, perjalanan bela negara pun merangkul sisi yang lebih luas lagi, mengisi kemerdekaan.


Nah, sebagaimana tujuan dari bela negara untuk mewujudkan suatu negara yang berkeadilan sosial, sejahtera, menjunjung nilai-nilai kejujuran dan budi pekerti, serta sebagai salah satu jalan meraih cita-cita luhur bangsa Indonesia, saya rasa –dan mungkin anda akan setuju dengan saya- tujuan itu belum sepenuhnya tercapai.


Kondisi riil sekarang ini sangat berlawanan dengan tujuan mulia tersebut. Mari kita membahasnya satu persatu, dikaitkan dengan Pancasila... Perwujudan bela negara untuk meningkatkan penanaman dan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. –maaf jika terkesan berat, jujur sebenarnya saya bukalahn Guru PPKn, saya hanya mahasiswa biasa yang ingin menyampaikan pemikirannya-


1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Seharusnya sebagai umat beragama yang menghargai perbedaan dan menghormati sesama, kita bisa menerapkan tenggang rasa. Tapi dimana KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA?? Penganut agama atau kepercayaan satu menjelekkan agama/kepercayaan lain. Sengketa tempat ibadah, Bom di tempat ibadah, teror dengan berlandaskan agama... Hei, apakah Tuhan kita mengajarkan itu semua??


2. Kemanusiaan Yang Adil dan beradab

“Yang jujur malah hancur...” Ny. Siami, potret kejujuran hakiki asli Indonesia, dituntut untuk meminta maaf atas kejujurannya dalam membongkar kasus mencontek massal dalam Ujian Nasional. Anaknya dipaksa menjadi sumber contekan ke teman-teman sekelasnya saat ujian. Hal ini malah diorganisir secara rapi oleh pihak sekolahnya sendiri. Gotong royong yang “indah” bukan?? Tapi Ny. Siami malah diusir dari kampungnya, oleh tetangga-tetangganya sendiri, hanya karena satu hal, membongkar bobroknya pendidikan negeri ini! Inikah keadilan? Beginikah manusia yang beradab? Apa itu yang disebut dengan kemanusiaan??


3. Persatuan Indonesia

Masihkah kita bisa bersatu dengan banyaknya gerakan separatisme, perebutan wilayah dan budaya Indonesia?? Apakah semua lapisan di negeri ini bisa mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika? Aaaah...yang ada hanyalah kesenjangan yang terlampau jauh untuk disatukan. Si kaya dan si miskin dibatasi tembok besar nan kokok dan tinggi...


4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan

Wakil wakil rakyat kita -yang kita berikan kepercayaan dari rakyat- malah pergi berhura-hira ke luar negeri... Masih ingat kasus email Komisi VIII saat berkunjung ke Australia?? MEMALUKAN!! –sorry to say, but i have to be honest and to say it loud-. Bagaimana bisa wakil rakyat tidak bisa merakyat? Bagaimana bisa keputusan yang diambil harusnya bisa berpihak kepada kepentingan umum (rakyat), tapi mereka berniat membangun gedung parlemen mewah yang notabene digunakan hanya untuk kepentingan golongan tertentu saja?? BAGAIMANA BISA??


5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Jelas, masih banyak di luar sana rakyat jelata yang kelaparan, peminta-minta, dan bagian dari wajah wajah Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Namun tengoklah keatas, banyak elite politik yang korupsi, memakan uang rakyat lalu kabur entah kemana, berebut kekuasaan, dan aaah...masih banyak lagi... Keadilan sosial kita apakah hanya sebatas kata-kata?? Mimpi yang tak pernah terwujud?? Atau bulan yang selalu dirindukan punguk??


Saya tidak bermaksud memprovokasi, atau membuat Anda tidak mencintai negeri ini lagi. Jujur, bukan itu maksudnya. Saya hanya menyadarkan diri saya pribadi dan teman – teman semua bahwa apa yang terjadi dilapangan, tidak selalu sesuai dengan teori di buku. Mimpi tetap saja mimpi, jika kita tidak bangun dan mewujudkannya...


Lalu bagaimana??


HEY, BUKANKAH SEMUA BERAWAL DARI DIRI SENDIRI??

Kalo diri kita sudah lantang berkata “TIDAK” pada korupsi, kalau diri kita sudah bersikap tegas dan berani untuk TIDAK MELAKUKAN KORUPSI, LAKUKAN!!

Jangan menunggu orang lain.. jangan menunggu penguasa di atas berubah dulu... Keadilan bisa kita wujudkan, minimal dari diri kita sendiri...


KEMBANGKAN WAWASAN KEBANGSAAN

Cukup normatif ya?? Dulu, orang-orang Malaysia belajar di Indonesia. Dosen dosen sekolah di sana pun berasal dari Indonesia. Sebenarnya kita (pernah) lebih pandai dari mereka. Tapi lihatlah mereka sekarang, mereka lebih maju daripada kita. KENAPA??


TINGKATKAN ETIKA DAN BUDI PEKERTI

Jangan sampai hilang, kawan...


Semoga kita semuanya bisa mengubah Indonesia agar lebih baik. Membela negara bukan hanya soal membela secara fisik, kita juga harus membela Indonesia dari BELENGGU KEBODOHAN, JERATAN KEMISKINAN, TIRANI KETIDAKADILAN, DAN HILANGNYA MORAL BANGSA...


Terakhir, tulisan ini tidaklah ada gunanya jika hanya dibaca. Kata-kata hanyalah rangkaian huruf jika tidak diwujudkan... Semoga saya tidak hanya bisa bicara saja... Semoga kita semua bisa bertindak sebagai mana generasi penerus bangsa yang diharapkan Pancasila dan cita-cita luhur bangsa...


Amiin . . .”


MERDEKAAA!!!

Catatan Seorang Mahasiswa (PART-1) : "Masihkah kita Memiliki Hati?"

9 Juli 2010


Seorang penjual kopi asal Malang membulatkan tekadnya untuk berjalan kaki dari kota apel tersebut ke ibukota. Motivasinya? Bukan hadiah ataupun ingin memecahkan rekor MURI. Dia mencari keadilan, sobat! 17 tahun yang lalu, anaknya tewas ditabrak polisi. Banyak yang mengetahui peristiwatersebut. Bahkan ada saksi yang sampai mengejar pelaku hingga ke kantornya di kepolisian dan mengetahui identitas si penabrak.


Normalnya,jika sudah ada di kepolisian, ada keluarga korban yang bisa melaporkan, ada saksi yang melihat kejadian, dan tersangka pun sudah berada dikepolisian, proses hukumakan segera berjalan. Tapi ternyata, teori tak selalu sesuai dengan kenyataan. Diperlukan waktu 15 tahun (baca: lima belas tahun!!) untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan. Ya, lima belas tahun, kawan!! Salah satu kasus terlama mungkin, satu diantara sekian kasus yang tak terselesaikan hingga presidennya berganti 5 kali, melewati orde barudan reformasi. Kejadian tabrak lari itu terjadi pada tahun 1993, namun baru disidangkan tahun 2008. Anda heran??? Saya pun heran dengan hukum dan birokrasi dinegeri ini. Haaaaahhh. . . .


Baiklah, minimal proses pengadilan berjalan. Namun taukah Anda, pengadilan ini sangat tertutup dan kontroversial. Bayangkan saja, sudah 10 kali panggilan, tapi tersangka tidak pernah hadir dalam pengadilan. Harusnya, jika 3 kali panggilan tidak datang, akan dijemput paksa oleh pihak pengadilan dan kepolisian. Tapi ini sudah 10 kali!! SEPULUH KALI, KAWAN!! Keluarga korban pun tidak diperbolehkan hadir dalam persidangan. Anda heran lagi??? Sama! Tapi hal yang paling kontroversial dan menyakitkan adalah:


-TERSANGKA DIVONIS BEBAS KARENA KASUS SUDAH KADALUARSA-


15 tahun bersabar menunggu proses persidangan, 10 kali tersangka tak hadir dipersidangan, keluarga rela tidak boleh hadir di persidangan,, hanya untuk menunggu KADALUARSA???? Oh, tidak... Nyawa anak manusia seperti tidak ada harganya disini. Masihkah kita memiliki hati untuk iba, sobat?


Adalah Bapak Indra Azwan, pria Malang yang mengalami ketidakadilan tersebut. Sejak vonis bebas itu disampaikan, beliau sudah berkali-kali menempuh jalur hukum untuk mendapat keadilan atas kematian anaknya, Rifki Andhika yang meninggal pada usia 12 tahun. Beliau meminta bantuan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) untuk menyelesaikan kasusnya. 14 advokat berdiri disamping Pak Azwan untuk menantang ketimpangan hukum sejak 2008. Namun, tak banyak hasil berarti yang didapat. Masihkah kita punya hati, sobat? 14 advokat seperti tak berarti melawan kesemena-menaan dinegeri sendiri. . .


Puluhan bahkan ratusan cara ditempuh Pak Azwan untuk memperjuangkan keadilan. Beliau meminta tolong LBH Malang, LBH Surabaya, LBH Jakarta, menemui pihak kepolisian, berbicara dan mengirimkan surat ke Markas Kepolisian Brawijaya Malang, OMBUDSMAN, KONTRAS, KOMNAS HAM, KOMPOLNAS, Satgas Mafia Hukum, Kepolisian Republik Indonesia, Komisi III DPR bagian hukum, bahkan ke Mahkamah Agung. Tapi sekali lagi, tak ada respon yang berarti. Masihkah kita memiliki hati untuk ikut prihatin, sobat?


Beliau sudah 8 kali menulis surat ke presiden, mengantarkannya langsung ke Cikeas dan Istana Negara, tapi tidak ada tanggapan dari RI-1. Beliau juga sudah berkali-kali datang ke Monas, Istana Negara, dan kediaman Presiden di Cikeas untuk melakukan aksi mogok makan dan orasi, berharap para pejabat prihatin. Namun apakah mereka peduli??? Saya tidak tahu. . .


Hingga pada tanggal 9 Juli 2010, Pak Azwan memutuskan untuk melakukan aksi nekat jalan kaki dari Malang hingga Jakarta untuk menemui Presiden SBY. Beliau sadar, jika hanya melakukan aksi mogok makan ataupun demo di Monas maupun depan istana, hanya orang-orang yang lewat disitu saja yang melihat ketidakadilan yang dialami beliau. Berbekal surat izin untuk melakukan aksi dan dokumen penting lainnya, Pak Indra mulai menembus 4 provinsi di Pulau Jawa ini. Harapannya sederhana, agar banyak rakyat Indonesia yang melihatnya,agar mereka dan pemerintah sadar bahwa masih ada ketimpangan dan ketidakadilan hukum yang dialami banyak orang. Beliau hanya ingin perubahan hukum, keadilan bagi rakyat kecil.


Setiap harinya beliau berjalan dari pukul 05.30 setelah sholat subuh hingga pukul 21.00. Pria tua ini hanya beristirahat untuk sholat dan makan. Hal yang mengesankan adalah beliau tetap mementingkan ibadahnya agar Yang Maha Kuasa membantu dan memberikan kemudahan baginya. Ketika malam tiba, beliau beristirahat di "Hotel Kuda Laut", istilah yang dipakai Pak Indra untuk menyebut SPBU Pertamina. Disana ada mushola untuk beribadah, ada toilet untuk membersihkan diri, ada pula tempat untuk istirahat.


Beliau hanya membawa uang 500ribu rupiah dari Malang untuk bekalnya. Dan untuk mendapatkan uang itu pun beliau harus menabung berbulan-bulan dari hasil jerih payahnya di warung kopi dan lapak korannya. Keterbatasan dana inilah yang membuat Pak Indra mau tidak mau harus berhemat. Dalam perjalanannya yang melelahkan, beliau hanya makan dua kali sehari. Untuk minum selama di jalan pun beliau harus meminta air di warung-warung yang dilewatinya, karena beliau tahu, uangnya tidak akan cukup untuk makan dan membeli air minum setiap harinya. aaaahhh.... Masihkah kita memiliki hati untuk iba, sobat?


Terik panas dilaluinya dengan semangat dan senyum yang tulus, tak pernah mengeluh. 15 jam beliau berjalan tiap harinya. Hampir 1000 km beliau berjalan kaki. Sepatunya yang sudah usang mulai rusak, kaos kakinya mulai tak nayaman dipakai, kakinya mulai melepuh, bahkan dua kuku kakinya berdarah dan hampir copot. Tiap pagi beliau harus membalut telapak kakinya dengan kapas dan 10 plester di masing-masing kakinya.


Hey kawanku, apakah kita memiliki hati untuk prihatin dengan keadaan dan perjuangan beliau?

Haruskah rakyat kecil berjuang sekeras itu untuk mendapatkan keadilan?

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu beliau?


bersambung. . . .

next: (part-2) 31 Juli 2010 Bapak Indra Azwan akhirnya...