Tampilkan postingan dengan label my mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my mind. Tampilkan semua postingan

di lantai tertinggi sebuah gedung perkantoran

Pekerjaan yang menumpuk membuatku terhindar dari sinar rembulan,
terkunci disela-sela siang
terjerembab di bawah kursi empuk nan nyaman

Kertas - kertas itu menemaniku berbicara setiap hari
bagai sang istri yang setia menyirami bunga dan rumput teki
dan pena seukuran ibu jari,
ah. . . sejatinya dia saja yang bisa ku pegang erat saat ini

Entah Tuhan berkehendak apa,
mata ku tetap tertuju padanya
layar kotak di depanku,
terbujur kaku menatapku

22.16
masih mesra,
bertatapan berdua,
sudah 14 jam aku disini,
waktuku hari ini bahkan kurang dari lama Tom saat berjalan ke rumah bibinya

Aku hendak berkata apa??
Hatiku mungkin telah kosong, berdebu, dan ditumbuhi sarang laba-laba
bisa jadi masih ada juga sedikit bercak luka juga di sudut sebelah sana

di tempat ini,
di lantai teratas gedung indah ini,
aku hanya bisa menuliskan ini kepada rembulan yang hampir habis oleh gerhana
bagaimana bisa Tuhan menciptakan kehilangan di setiap akhir dari sebuah pertemuan?

mungkin seperti sakura yang mekar kemudian gugur tertiup angin
supaya dia bisa berpendar lebih indah
meskipun perlahan jatuh ke tanah. . .

66 Tahun 6 Hari Indonesia Merdeka


Pendapat saya sederhana. Satu kalimat saja. . .

"#merdekaitu adalah saat dimana lirik terakhir dari lagu kebangsaan kita benar-benar sudah ada dan bisa dirasakan secara nyata..."



HIDUPLAH INDONESIA RAYAAAA. . . .


THE LAST, THE ONE AND ONLY REAL DRAGON IN THE WORLD

Naga purba di era modern? Mungkin terdengar sangat mustahil bagi sebagian orang. Namun percaya tidak percaya, ada satu kadal raksasa (sebagian orang menyebutnya "naga") yang masih hidup dan menguasai beberapa pulau di dunia ini.

Kadal terbesar di dunia, kadal yang dihubungkan dengan gejala gigantisme pulau, kadal yang bisa melihat sejauh 300m, kadal yang bisa mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4-9,5 km, kadal yang penyendiri, kadal terbesar yang bisa berlari cepat, berenang, menyelam, pandai memanjat pohon dengan cakarnya, dan kadal yang bisa berdiri dengan dua kaki belakangnya. Kadal yang istimewa. Kadal yang mewarisi sejarah reptilia purba. Kadal yang hanya hidup alami di beberapa pulau di Indonesia. Dan inilah dia. . .


KOMODO DRAGON

Ya! Itulah dia. Komodo. Sang kadal raksasa yang menduduki kasta tertinggi dalam rantai makanan di ekosistemnya. Komodo adalah predator buas yang kerap membunuh mangsanya dengan bisa plus bakteria berbahaya di gigi, mulut, dan air liurnya. Binatang ini juga memiliki cakar yang panjang dan tajam sebagai alat berburu dan penyantap mangsanya. Dia memiliki ekor yang hampir sama panjang dengan badannya. Detektor rasa dan penciuman kadal ini terletak pada lidahnya yang bercabang, bukan di hidungnya. Dan yang lebih spesial lagi, kadal ini mampu memakan korbannya meskipun besar korbannya mencapai 80% dari bobotnya sendiri. Uniknya, setelah makan, komodo menyeret tubuhnya yang kekenyangan untuk berjemur di bawah sinar matahari untuk mempercepat proses pencernaan dalam tubuhnya. Jika tidak, makanan itu dapat membusuk dalam perutnya dan meracuni dirinya sendiri. Karena metabolismenya yang lambat, komodo dapat bertahan dengan hanya makan satu kali dalam sebulan.


Wow!! Luar biasa bukan??



Maka tak heran jika komodo mendapat tempat spesial sebagai "World Heritage" atau warisan dunia yang diakui UNESCO sejak 2 dekade lalu. Semasa kita kecil, komodo pun sudah akrab di kantong dan saku kita. Ya, dia lah yang terukir di uang logam Rp 50,00 dulu. Meski begitu, komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, dan dikatagorikan sebagai spesies Rentan dalam daftar IUCN Red List. Aktivitas vulkanik, gempa, kerusakan habitat, kebakaran, semakin berkurangnya mangsa, serta perburuan gelap adalah sekian banyak faktor yang menghimpit kelangsungan hidup para komodo.


Tak kenal lelah, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian satwa langka ini. Taman Nasional Komodo didirikan, berbagai penangkaran dibangun, banyak penelitian dan aktivitas dilakukan untuk menghindarkan komodo dari kepunahan. Sebagai binatang yang eksotis dan "limited edition" pemerintah juga tidak kalah dalam mempromosikan komodo ke dunia luar. Adalah Ajang Pemilihan Tujuh Keajaiban Alam Baru atau "New Seven Wonders of Nature" (N7WN) yang menjadi panggung pembuktian komodo. The Dragon telah berhasil masuk ke 28 besar dari 440 nominasi dari 220 negara.



Namun sayang, promosi komodo lewat ajang ini terpaksa terhenti karena sengketa pemerintah dengan yayasan penyelenggara, New 7 Wonders Foundation. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, secara tegas menyatakan menarik mundur Taman Nasional Komodo (TNK) dari ajang tersebut dikarenakan New 7 Wonders (N7W) Foundation telah melakukan tindakan tidak profesional, tidak konsisten, dan tidak transparan, serta tidak memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.


Mungkin beberapa dari kita kecewa, sedih, atau bahkan geram. Tapi, ada atau tidaknya promosi melalui N7WN, komodo telah diakui dunia sebagai "The One and Only Real Dragon in The World." Banyak pula kebun binatang – kebun binatang di Eropa dan Amerika yang membantu penangkaran komodo dan memperkenalkan naga purba ini ke masyarakatnya. Tidak hanya itu, bahkan dari hal-hal kecil pun kita tetap bisa mempromosikan komodo kepada khalayak terdekat kita. Berawal dari kreatifitas dan ide segar anak muda jaman sekarang, komodo bisa hadir dalam bentuk Boxer, pakaian dalam atau celana santai para pria.



Kembali lagi, hal besar bisa dilakukan melalui hal kecil. Hal – hal yang sederhana, lucu, "menjurus" dan lain-lainnya, terkadang bisa memiliki nilai dan lebih berkesan bagi orang disekitar kita. Tidak perlu membangun kebun binatang atau pergi ke Pulau Komodo untuk membantu mengenalkan dan menjaga sang kadal raksasa. Cukup duduk di sofa sambil menonton TV dengan mengenakan sebuah boxer pun bisa menyampaikan pesan ke keluarga anda bahwa kita masih peduli terhadap komodo dan ancaman kepunahannya. Ya, sekarang kita semua bisa menunjukkan kecintaan kita terhadap komodo, cerminan eksotisme warisan dunia, representasi kekayaan alam Indonesia!



NO MORE SEVEN WONDERS!!


IT'S TIME TO USE BOXER!!




BOXXXER GILA : "KAMI VITAL TAPI SOPAN"



Referensi:


id.berita.yahoo.com


Tempointeraktif.com


okezone.com


wikipedia.com


antaranews.com


Sumber gambar:


http://travel.nonadita.com/


http://en.numista.com/


http://www.boxxxergila.com/

Tulisan tahun lalu. . .

Jika Anda mengetikkan nama "Rahadhian Faris Muttaqin" di google, mungkin yang akan muncul adalah website Bapak Anindya Bakrie.

Anda tahu kenapa??

Berawal dari April tahun lalu, saat Beliau menyelenggarakan Kontes Update Status dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei. Saya berfikir sejenak, mencari inspirasi, kemudian menuangkan pikiran saya dalam bentuk status yang panjang karakternya tidak boleh melebihi 420 karakter. Kelihatannya memang mudah. Apa susahnya sih update status?? Susah-susah gampang sebenarnya. Letak kesulitannya ada di bagaimana Anda menyampaikan ide/pendapat Ana yang mungkin kompleks dan perlu dijelaskan secara detail kedalam suatu paragraf singkat yang disebut status facebook.

Dan kurang lebih inilah hasil pemikiran saya saat itu:

“Taukah Anda pendidikan yg ideal?

Bukan pendidikan “KUTU BUKU” yang mengharuskan mahasiswa menjawab persis sperti yg trtulis di buku. . .

Bukan pendidikan “OTORITER” dimana setiap titah dan tindakan dosen selalu benar. . .

Bukan pendidikan “ROBOT” dimana siswa diharuskan mengikuti dan menaati setiap titah ’sang dewa’. . .

Pendidikan yg ideal haruslah didasarkan pada kebebasan, minat dan kesukaan siswa sehingga daya imajinasi dan kreatifitas akan terbuka lebar hingga akhirnya akan memunculkan ide-ide briliant nantinya, dibatasi nilai-nilai moral dan agama tentunya…”


Dan syukur alhamdulillah, tulisan tersebut menjadi satu dari 3 yang beruntung diantara 400 status lain yang mengikuti kontes ini. Awalnya saya tidak menyangka karena status saya tersebut "sepi". Tidak ada komen, dan hanya satu orang yang memberikan "like".


Namun saat saya dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, saya dikejutkan oleh sms dari kakak tingkat saya. "Selamat ya Ris...-dan seterusnya-" Dan saya pun langsung ke warnet untuk mengeceknya. Alhamdulillah, saya bisa membuat ayah dan ibu saya sedikit bangga. Saya sangat terharu saat itu...


Ini bukan masalah hadiah. Ini adalah tentang sebuah ide, pemikiran, kontribusi kecil dan bagaimana seorang anak mencoba membuat orang tuanya bangga...


Aaaah. . .Kenangan yang manis...

(kiri-kanan) Rahadhian Faris Muttaqin, Rini Susilowati dan Muhammad Fairuz pemenang Kontes status update di fan-page Facebook http://www.facebook.com/pages/Anindya-Bakrie/ tentang Hardiknas di Jakarta, Jumat (7/5/10).

Seperti yang termuat di situs Bapak Anindya Bakrie http://aninbakrie.com/?p=855

Senang bisa membuat ayah dan ibu bangga...
:))

Inilah (sebenarnya) Jawaban Saya....

Beberapa kali, banyak pertanyaan tertuju kepada saya...

Saya masih memiliki hutang untuk menjelaskannya, tapi dengan cara saya, dengan bahasa saya...

Dan inilah jawaban saya (sebenarnya)...

Please enjoy, semoga menjawab :)


¤ ¤ ¤


Katak dalam Tudung Saji


"Saya teringat masa kecil saya di SD dulu. Yah, bukan SD mewah dan berkelas seperti yang banyak kita temui di ibukota. SD saya dulu hanya sebuah bangunan sederhana bercat krem dengan 6 kelas, tiap-tiap kelasnya hanya diisi sekitar 20 anak dari sebuah desa kecil. Anda prihatin? Belum saatnya sobat. . .


Suatu hari, saat bel istirahat berbunyi, saya dan beberapa teman bermain di luar. Membelah lapangan, menuju ke persawahan. Saya bermain di tempat pembuatan batu bata di samping sawah itu. Memang kerajinan tembikar, genteng, dan batu bata merupakan salah satu opsi untuk bertahan hidup disana.


Ada hewan yang mengusik perhatian saya di tempat itu. Katak. Amphibi berkaki empat yang hobby melompat. Sejenak saya teringat peribahasa yang diajarkan guru saya di kelas. Bagai katak di dalam tempurung. Saya dan teman-teman saya pun lantas bereksperimen untuk membuktikan keabsahan peribahasa tersebut secara langsung. Kebetulan sekali ada tempurung yang digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk membuat api guna membakar bata.


Ya,, tak sulit bagi kami, anak-anak desa, untuk memburu katak itu dan mengurungnya di dalam tempurung kelapa. Mungkin katak itu melompat lompat di dalam tempurung kelapa. saya hanya mengira-ngira seperti itu karena saya tak bisa melihat tembus pandang ke dalam tempurung itu dan setau saya tak ada tempurung kelapa yang transparan di dunia ini.


Mencoba melompat keluar dan tak bisa. Mencoba melihat keluar dan masih tak bisa. Mencoba dilihat oleh dunia luar pun tentu tak bisa. Katak yang malang. Tapi tahukah anda katak mana yang lebih malang daripada katak di dalam tempurung?


Katak dalam tudung saji. Dan itu saya temui di dalam dunia perkuliahan saat ini. Anda tidak berpikir ada sekelompok mahasiswa bermain di sawah untuk berburu katak dan memasukkannya ke dalam tudung saji bukan?


Atau anda berpikir saya sedang makan di sebuah restoran khas katak lalu dicekal oleh MUI karena makan makanan berbahan amphibi adalah haram?


Hahaha. Tidak sobat. . .


Itu hanyalah sebuah peribahasa “made by me”. Lalu kenapa saya sampai segitu isengnya untuk membuat peribahasa konyol seperti itu? “Lagi gak ada kerjaan, Ris?”


Saya tak ingin menjawab pertanyaan itu. Biarlah nanti anda yang menyimpulkannya sendiri. Baiklah, sedikit clue untuk anda. Yang berperan sebagai katak dalam sandiwara ini adalah anda, para mahasiswa. Waw,, anda shock?! Kenapa saya begitu sadis sampai mengibaratkan anda seperti itu?


Mari kita mulai dengan menggunakan imajinasi dan daya khayal kita. Bayangkan seekor katak ada di dalam sebuah tudung saji. Tudung saji yang digunakan adalah tudung saji berstandar internasional –haha..sedikit lebay untuk yang ini-.


Orang lain bisa melihat katak tersebut dari celah-celah tudung saji. Anda, si katak, juga bisa melihat keluar, tapi terbatas, tidak bebas, dan tidak jelas. Katak punya kemampuan melompat yang baik, semua tahu dan tak meragukan hal tersebut. Tapi anda hanya bisa melompat-lompat di dalam tudung saji tersebut, disitu-situ saja. Dan sepandai-pandai katak melompat, pasti jatuh juga. #eh??


Jika tadi kataknya masih hidup, mari kita buat situation-2 dimana sang katak sudah dihias dan dipercantik diatas piring sebagai suatu hidangan. Anda jijik makan katak? Atau memang tidak boleh memakan katak? Hmmm. . .


Katak dalam tudung saji.


Jadi apa maknanya?


Begini sahabatku, kenapa katak tadi saya ibaratkan sebagai mahasiswa... Woi, kebalik!! Kenapa saya tadi mengibaratkan katak sebagai mahasiswa? Seperti halnya katak yang diberi anugrah oleh Tuhan untuk pandai melompat, mahasiswa juga diberi keunggulan untuk berpikir. *Bukankah Tuhan itu Maha Adil? :)*


Tapi apa yang terjadi seandainya lompatan katak itu terbatasi dalam suatu area dan lingkup tudung saji yang kecil?


Yupz, sama halnya dengan mahasiswa. Jika pikiran dan anugerah Tuhan yang diberikan itu hanya digunakan dalam ruang terbatas –ambil contoh mahasiswa hanya fokus untuk tujuan akademik semata dan tidak mau terbuka dengan yang lain-, selamanya anda akan terkurung dalam tudung saji tersebut. Anda bisa melihat keluar, tapi tidak jelas dan tidak bebas. Dalam keadaan ekstrim, anda bisa melihat keluar, tapi tak peduli dengan keadaan diluar!! *na’udzubillah*


Si katak yang terkurung dalam tudung saji identik dengan mahasiswa yang terkurung dalam paradigma skeptis akademis. Terlalu fokus dengan kegiatan kuliah dan segala tugas-nya. Kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang). Serasa hidupnya hanya dihabiskan untuk belajar dan belajar, mencari dan menyelamatkan beasiswa. Dia bisa melompat didalam tudung saji, dia pandai dalam bidang akademik. Dia bisa melihat keluar, tapi tak bisa atau tidak mau-dalam keadaan ekstrimnya- memperhatikan apa yang terjadi diluar sana. Kepedulian dan kesadaran sosial yang sangat memprihatinkan. Dimanakah moralitas itu tertanam?


Hal inilah yang coba kami pecahkan dengan dibentuknya Kementrian Kebijakan Publik dalam susunan Kabinet “Generasi Pembaruan” Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bakrie 2010/2011.


Sejatinya seorang mahasiswa itu selain unggul dalam segi kognitif,, tapi juga peka terhadap sisi-sisi humanity terhadap sekitarnya. Buat apa menghasilkan sarjana tapi hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Kami ingin anda membuka mata, siapkan telinga, lihat dan dengar apa yang terjadi diluar sana. Kami ingin anda peduli dengan isu yang berkembang di negeri ini. Kita, mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral terhadap masa depan bangsa.


Kepedulian ibarat pondasi. Rasa empati adalah dasar yang harus dimiliki. Sumbangsih pemikiran adalah tiangnya. Gerakan mahasiswa adalah klimaksnya. . .


Satu hal yang perlu diluruskan dari gerakan mahasiswa adalah bukan tentang aksi demo turun ke jalan dan berteriak-teriak sekuat tenaga tanpa pernah di dengar kaum elite senayan. Bukan aksi anarkis memblokade jalan dengan membakar ban. Kita mahasiswa, kaum intelegensia bangsa. Mari kita melakukan gerakan mahasiswa secara cerdas. Ujung pena kadang jauh lebih tajam dari pedang kawan. Tulisan-tulisan kita, sumbangsih pikiran kita, kesadaran dan kepedulian kita, diskusi, brainstorming, workshop, seminar untuk mengkaji isu sosial dan menemukan solusi adalah cara yang lebih baik dari tindakan primitif semacam demokrasi anarkis.


Tak cukup hanya mengkritik, bangsa ini membutuhkan solusi cerdas kawanku. Kita sebagai generasi intelektual diberi kepercayaan untuk itu, dengan pemikiran-pemikiran briliant kita, Inovasi kawan!! Salah satu quote dialog dari film favorit saya:


“Kau disubsidi sekolah disini buat bantuin pemerintah mikir! Kalau kau bisanya cuma nyalah-nyalahin pemerintah, buat apa kau diluluskan?! Republik ini sudah kebanyakan sarjana nyingir!!”


Katak dalam tudung saji. Orang lain bisa melihat si katak dari luar. Dunia melihat kalian semua kawanku!! Tunjukkan kontribusi kita sobat!! Sekecil apapun, dalam bentuk apapun, kita terikat oleh tri dharma perguruan tinggi yang ketiga. Sebuah pengabdian masyarakat, dari seorang mahasiswa, calon penerus bangsa, dengan segala sumbangsih pikiran dan moralitasnya."


Tanpa bermaksud apa-apa, saya hanya berusaha menjawab banyak statement "kurang paham" dan menurut saya, itu menjadi hutang saya.. Tapi, suka atau tidak, itulah tulisan saya, hasil pemikiran saya, pemikiran kami bersama.. Itu yang saya tulis dengan tangan saya sendiri, pada 05 Juli 2010, sekitar satu tahun yang lalu... click disini jika Anda tidak percaya... Sebuah tulisan lama, tapi Semoga bermanfaat, semoga berguna...


Terima kasih telah membaca


Salam hangat dari saya


view original post

Testimoni untuk Tempat Yang Saya Sebut Kampus

Entahlah saya harus mulai dari mana...


Kampus ini merupakan salah satu wadah bagi siswa siswi terbaik dari seluruh penjuru nusantara

Tenaga pengajarnya juga kumpulan priyayi yang tak sembarangan ilmunya

Fasilitasnya lengkap, canggih, modern

Nyaman dan baik untuk belajar


Tapi apakah semua itu sempurna?

Saya tidak berkata tidak...

Hanya saja,

beberapa penggerak supporting department tak bisa berlari disaat semua sedang berlari...

Birokrasi yang berbelit, sistem yang kolot utk sebuah sekolah modern,

Berat rasanya berlari dengan membawa setumpuk batu


Yth. Bapak Ibu "Penghuni Kediaman Depan"

Maaf saya lancang, tetapi tetap saya berusaha sopan...

Sewaktu pertama kali masuk ke tempat yang saya sebut kampus ini

Ada tiga yang ditanamkan ke dalam diri

CARE, INNOVATIVE, PROFESSIONAL


Jika kampus adalah perusahaan, maka salah satu stakeholdernya adalah mahasiswa

Kebetulan baru saja saya mengikuti Ujian Corporate Governance

Saya rasa tidak hanya saya, kita semua tahu bagaimana peran stakeholder

dan bagaimana perusahaan menjalin hubungannya dengan pemangku kepentingan tsb.

CARE!!


Apa jadinya jika costumer yg sedang berhadapan dg sebuah masalah datang ke toko, tetapi perusahaan malah menutup tokonya??

Saat senyum menjadi sesuatu yang mahal,

saat sikap tidak bersahabat dan kata-kata tajam

melekat di punggawa baris depan,

saat menghadapi stakeholdernya,

bukan hanya satu, lebih dari itu. . .


Itulah yang terjadi, di suatu tempat yang saya sebut "Kediaman Depan"

Apakah CARE tidak tertanam kepada penghuni kediaman depan itu?

Ah...apalagi yang baru...


PROFESSIONAL

"Maaf ya, saya pulang dulu..."

Sebuah ungkapan tanpa dosa yang terlontar dari Penghuni Kediaman Depan, saat beberapa costumernya telah menunggu lebih dari satu jam lamanya...

Apakah mereka tidak peduli?

Bagi kami, selembar kertas, ataupun kumpulan huruf menjadi sangat penting...

sangat penting. . .

Tapi mereka tidak tahu...


Semoga saja saya salah...

Semoga saja mereka masih sibuk dengan pekerjaannya...

atau karena agent yang tersedia terbatas adanya...


Semoga kampus yang ingin menjadi World Class University ini tidak salah memilih priyayi yang menggerakkan roda operasional, meski hanya supporting Department...

Semoga saat para inputnya dituntut utk berlari, bagian - bagian pendukungnya bisa membantu berlari, bukan dengan diam dan menarik diri


Oh iya, saya teringat akan ada softskill training,

mungkin kita bersama2 bisa mengikuti pelatihan itu,

untuk sekedar berlatih senyum, atau mengeja kata pro-fe-si-o-nal-i-tas


Mohon maaf jika testimoni ini jadi lebih mirip puisi

Maaf jika implisit, tersirat, ataupun banyak berbumbu majas...


"Setiap konsumen berhak untuk didengar pendapat dan keluhannya..." (UU RI No. 8 th 1999)


"Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab dilindungi oleh Undang - Undang." (UU RI No. 9 th 1998)


Saya percaya, para priyayi yang sedang sibuk di ruang kerjanya demi kemajuan universitas ini

mengerti...

#IndonesiaJujur : Siami dan Sila Kedua

Anak – anak SD, tak terkecuali SDN Gadel II, setidaknya pasti hafal Pancasila. Coba saja tanyakan mereka apa bunyi sila Kedua Pancasila, dengan lantang mereka akan menjawab “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”. Tapi, tahukah mereka makna dibalik Sila Kedua itu?? Mungkin terlalu tinggi. Bagaimana kalau orang tua anak-anak itu?? Tahukah mereka?? Aaaah... Saya harap mereka paham.


Kembali ke kasus Ny. Siami, potret kejujuran hakiki asli Indonesia. Beliau dituntut untuk meminta maaf atas kejujurannya dalam membongkar kasus mencontek massal dalam Ujian Nasional. Anaknya, Al, dipaksa menjadi sumber contekan ke teman-teman sekelasnya saat ujian. Hal ini malah diorganisir secara rapi oleh pihak sekolahnya sendiri. Gotong royong yang “indah” bukan?? Tapi apakah hal ini berujung indah?? Memang siswa siswi kelas VI lulus semua. Happy ending, dari segi akademis. Tapi bagaimana dengan Ny. Siami dan anaknya?


Kejujuran mereka membuat Ny. Siami dan keluarga malah diusir dari kampungnya, oleh tetangga-tetangganya sendiri. Beliau diteriaki “Usir...Usir...Tidak punya hati nurani...”. Tapi hey, tunggu dulu... Siapa yg tidak punya hati nurani?? Mengusir seseorang yang telah berkata jujur? Sepertinya langit dan bumi sedang linglung..


Warga mengatakan menyontek sudah terjadi di mana-mana dan wajar dilakukan agar siswa bisa lulus. Jika sejak kecil budaya mencontek sudah melekat kuat, mau jadi apa Indonesia 50 tahun lagi? Akan lebih banyak koruptor lagi kah?? Semoga saja saya salah...


Masyarakat kita sakit! Seorang ibu diusir hanya karena satu hal, membongkar bobroknya pendidikan negeri ini! Inikah keadilan? Beginikah manusia yang beradab? Apa itu yang disebut dengan kemanusiaan??


Apakah Sila Kedua Pancasila masih bisa menghela nafas?? Jika saja dia bisa bicara, dia pasti diam. Diam saking herannya, saking tak bisa lagi berbicara, saking sedihnya melihat Indonesia...


Wahai burung Garuda, janganlah engkau terus melihat ke kanan. Lihatlah ke bawah juga.. Disana banyak mata yang menangis, tubuh yang tersungkur, dan jiwa yang tersita.. Kemanusiaan dan keadilan masih menjadi mimpi yang enggan jadi nyata... Semoga kita semua bisa mengubahnya...


Suarakan dukungan Anda terhadap kejujuran!

Klik #Indonesiajujur lalu menulislah demi terbukanya mata dunia!!

¤ ¤ ¤


Ditulis oleh:

Rahadhian Faris Muttaqin

Mahasiswa Semester 6 Program Studi Akuntansi

Universitas Bakrie

“Ditulis dengan kejujuran...berharap Indonesia jujur bisa terwujud tanpa ada lagi air mata...”

Sekeping Koin Penyok

disadur dari: Kisah-Kisah Inspiratif


Seorang pemuda keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Sebenarnya pemuda itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.


Ketika pemuda itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.


“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller Bank memberi saran. Pemuda tersebut mengikuti anjuran teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu.

Si pemuda merasa sangat gembira dan dia mulai memikirkan apa yang akan di lakukannya dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.


Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, si pemuda memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul anak muda itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1 juta untuk kayu tersebut. Si pemuda nampak ragu - ragu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan bahkan menawarkan mebel yang sudah jadi agar dipilih pemuda tersebut sebagai gantinya. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.


Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2 juta. Ketika si pemuda nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2,5 juta. Akhirnya dia setuju. Kemudian dia mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.


Di pintu desa, si pemuda berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2,5 juta. Pada saat bersamaan, seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri anak muda tersebut kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,


“Apa yang terjadi? Kau baik saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi ?”


Pemuda tadi hanya mengangkat bahunya dan berkata,


“Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi. . .”


3 first posts

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. . .

lantunan ucapan salam dan syukur akhirnya terlontar dengan indah sehubungan releasednya blog ini.

Sudah lama ada keinginan untuk memiliki blog dan mencurahkan isi hati, mekanisme pikiran di otak, pengalaman tak terlupakan, dan segala yang terjadi tentang saya, anda, keluarga, kawan-kawan saya, kuliah, isu sosial kemasyarakatan dan hal hal lain yang memang perlu dan layak untuk ditulis. Kalimat yang kompleks, bukan?

Make it simple: "TULISAN SAYA MENGGAMBARKAN SUARA HATI SAYA"

Kesan pertama yang saya ukir dalam web ini terbungkus dalam 3 buah postingan ringan, 1 berupa puisi, 1 kutipan buku, dan 1 lirik lagu. Ringan tapi tetap memiliki jiwa untuk dibaca dan diresapi.

Ya, itulah saya.

Mungkin terlalu naif dan subyektif jika saya menggambarkan sifat saya secara langsung. Andalah yang akan menilai dan menangkapnya dari tulisan-tulisan saya. Kadang postingan ringan, bisa juga serius, dan sering kali bercanda.

Bahasa formal semacam ini saya gunakan sebagai gong pembuka, untuk nada dan ritme selanjutnya akan terdengar dari berbagai alat musik yang halus, keras, sepoi-sepoi, maupun menggelitik. . .
^^,

Salam dari saya,

Terima kasih telah membaca. . .

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

pergilah, tapi ingat tuk kembali

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah – lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir, menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali jadi tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan

namun setelah engkau mendapat apa yang engakau dambakan..
berilah fikirmu pada kampung halaman tempat awal kau berada..

*Imam Syafii
Dikutip dari novel Negeri 5 Menara karangan A. Fuadi

Kisah Seorang Anak

di bawah lorong jembatan itu
seorang anak meretas asa
dia lahir sebagai lelaki
meski hanya bertahtakan kumpulan tulang
meski hanya berselimutkan kulit

rasa sakit itu membuatnya mengerti
dunia tak selalu baik pada manusia
luka itu menjadikannya kejam
bahkan lebih dari serigala malam

kau tau kenapa?
mungkin hatinya tlah membeku. ..
dingin. . .hampa. . .berdebu. . .
bahkan dipenuhi sarang laba-laba

dia sering dimusuhi,, dihina,, dan dicaci
namun taukah anda,
semua cinta yg telah menyakitinya
membawanya pada suatu cahaya

tak ada lagi makhluk pesolek dalam hatinya
tak ada ruang untuk omong kosong bernama cinta
cinta hanya datang silih berganti,, dan terus menyakiti

dia bergumam pelan. . .
cinta abadi hanya milik sang ibu pada anaknya
kasih yang tulus hanya dari ibu pada putranya
dan pengorbanan terbesar hanya sanggup dilakukan ibunda

pandangannya berubah saat itu juga

dia masih bisa berdiri,, meskipun hanya dgn satu kaki
dia masih bisa bangkit,, meski tlah jatuh ribuan kali
dia tak kan lari,, meski 100 orang yg dihadapi

dia akan hidup di dunia ini,, tuk berjuang tanpa henti
tak kan menyerah,, hingga darah tak lagi tumpah
hanya untuk mereka,, yg setia menunggu dirumah
kan dibawakannya kado terindah
dari semua prestasi,, yang dia miliki

keras dia berteriak dalam hati
wahai ayah,, putra kebanggaanmu akan terus meneladanimu. . .
wahai ibu,, aku memang bukan anak kesayanganmu
tapi engkaulah yg paling kusayang
meski tak pernah ku mampu. . .
mengatakan itu. . .
padamu. . .

[from my note]