Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

di lantai tertinggi sebuah gedung perkantoran

Pekerjaan yang menumpuk membuatku terhindar dari sinar rembulan,
terkunci disela-sela siang
terjerembab di bawah kursi empuk nan nyaman

Kertas - kertas itu menemaniku berbicara setiap hari
bagai sang istri yang setia menyirami bunga dan rumput teki
dan pena seukuran ibu jari,
ah. . . sejatinya dia saja yang bisa ku pegang erat saat ini

Entah Tuhan berkehendak apa,
mata ku tetap tertuju padanya
layar kotak di depanku,
terbujur kaku menatapku

22.16
masih mesra,
bertatapan berdua,
sudah 14 jam aku disini,
waktuku hari ini bahkan kurang dari lama Tom saat berjalan ke rumah bibinya

Aku hendak berkata apa??
Hatiku mungkin telah kosong, berdebu, dan ditumbuhi sarang laba-laba
bisa jadi masih ada juga sedikit bercak luka juga di sudut sebelah sana

di tempat ini,
di lantai teratas gedung indah ini,
aku hanya bisa menuliskan ini kepada rembulan yang hampir habis oleh gerhana
bagaimana bisa Tuhan menciptakan kehilangan di setiap akhir dari sebuah pertemuan?

mungkin seperti sakura yang mekar kemudian gugur tertiup angin
supaya dia bisa berpendar lebih indah
meskipun perlahan jatuh ke tanah. . .

Kisah Seorang Anak

di bawah lorong jembatan itu
seorang anak meretas asa
dia lahir sebagai lelaki
meski hanya bertahtakan kumpulan tulang
meski hanya berselimutkan kulit

rasa sakit itu membuatnya mengerti
dunia tak selalu baik pada manusia
luka itu menjadikannya kejam
bahkan lebih dari serigala malam

kau tau kenapa?
mungkin hatinya tlah membeku. ..
dingin. . .hampa. . .berdebu. . .
bahkan dipenuhi sarang laba-laba

dia sering dimusuhi,, dihina,, dan dicaci
namun taukah anda,
semua cinta yg telah menyakitinya
membawanya pada suatu cahaya

tak ada lagi makhluk pesolek dalam hatinya
tak ada ruang untuk omong kosong bernama cinta
cinta hanya datang silih berganti,, dan terus menyakiti

dia bergumam pelan. . .
cinta abadi hanya milik sang ibu pada anaknya
kasih yang tulus hanya dari ibu pada putranya
dan pengorbanan terbesar hanya sanggup dilakukan ibunda

pandangannya berubah saat itu juga

dia masih bisa berdiri,, meskipun hanya dgn satu kaki
dia masih bisa bangkit,, meski tlah jatuh ribuan kali
dia tak kan lari,, meski 100 orang yg dihadapi

dia akan hidup di dunia ini,, tuk berjuang tanpa henti
tak kan menyerah,, hingga darah tak lagi tumpah
hanya untuk mereka,, yg setia menunggu dirumah
kan dibawakannya kado terindah
dari semua prestasi,, yang dia miliki

keras dia berteriak dalam hati
wahai ayah,, putra kebanggaanmu akan terus meneladanimu. . .
wahai ibu,, aku memang bukan anak kesayanganmu
tapi engkaulah yg paling kusayang
meski tak pernah ku mampu. . .
mengatakan itu. . .
padamu. . .

[from my note]